Try – Proposal Tugas Akhir – Analisis Perubahan Ionosfer dan Deformasi pada Letusan Gunung Merapi DIY

Mencoba mengepos contoh proposal ini untuk pertama kali. Karena daya pikir yang kurang mumpuni, kata yang terbayang melayang – layang tanpa satupun kalimat yang terkait, berfikir tepat namun tidak sesuai dengan apa yang terucap dan ketidakberdayaan membuat keelokan suatu pemikiran untuk menyusun kata – kata yang indah tepat dan akurat dalam pembuatan blog ini. (hehe intinya masih bingung tema yang ditulis apa dan bagaimana guys).

Daripada bingung – bingung, ini tulisan pertama saya sebenernya. Sebuah karya kebanggaan pada jenjang pendidikan S1 nantinya. Karena ini masih dalam proses pembuatan. Doakan semoga sukses dan selesai tepat waktu ya guys. 🙂

Kegiatan Tugas Akhir ini dilakukan pada akhir tahun(tahun ke 4) jenjang S1. Dengan background pendidikan saya yaitu, Geomatika – ITS. Saya memilih judul tersebut yang menghubungkan penerapan ilmu geodesy terhadap gempa yang ada di Indonesia.

Indonesia adalah Negara kepulauan yang berada ada pertemuan dan tumbukan tiga lempeng tektonik yaitu Australia, Eurasia, dan Pasifik yang pergerakannya merupakan salah satu penyebab gempa bumi yang ada di Indonesia dan Negara-negara tetangga lainnya. Dari akibat pergerakan lempeng tersebut maka Indonesia sering disebut berada pada daerah Cincin Api. Cincin api adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Akibat  tumbukan  lempeng  tersebut  maka  Indonesia  mempunyai  129  buah  gunung api aktif atau sekitar 13 % dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatera, Jawa sampai laut Banda. Bukit barisan  (30  buah),  P. Jawa  (  35  buah),  P.  Bali-  Kepulauan  Nusa  Tenggara  (30  buah), Kepulauan  Maluku  (16  buah)  dan  Sulawesi  (18  buah)  yang   dikategorikan  aktif (Nandi 2006).

Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang didefinisikan sebagai saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan saat dia meletus. Secara singkat, gunung berapi adalah gunung yang masih aktif dalam mengeluarkan material di dalamnya (Rukaesih 2004). Gunung Merapi adalah gunung berapi di Jawa Tengah dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Letak koordinat lintangnya adalah 7o32’31’’ LS dan 110o26’46’’. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan lainnya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Akibat dari letusan Gunung Merapi ini menyembabkan beberapa hal termasuk perubahan variasi Ionosfer.

Pada terjadinya letusan gunung ini, magma yang berada dalam perut bumi tidak stabil dan akan terjadi tekanan ke atas. Tekanan ini akan membentuk dan merambatkan energi gelombang permukaan maupun dibawah tanah dalam bentuk getaran. Perambatan yang berada pada permukaan bumi dan merambat secara horizontal disebut dengan gelombang rayleigh. Gelombang rayleigh inilah yang akan mengakibatkan gempa bumi. Dari pergerakan gelombang ini, maka akan terjadi perambatan ke arah vertikal ke atas. Perambatan menuju atmosfer luar bumi ini biasa disebut dengan gelombang acoustic. Semakin besar skala letusan yang diakibatkan, maka semakin kuat gelombang acoustic yang tercipta hingga merambat mencapai lapisan ionosfer. Dari pencapaian gelombang ini maka akan terjadi Coseismic Ionospheric Disturbance (CID) pada lapisan ionosfer yang diukur dengan menggunakan gelombang L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60 MHz) yang ditransmisikan dari satelit Global Positioning System (GPS) ke beberapa stasiun receiver yang tersebar tidak jauh dari pusat erupsi. Dengan data dari beberapa satelit yang melintasi di atasnya, CID ini terlihat setelah 11 – 16 menit terjadinya gempa dan merambat secepat kecepatan ~0,7 km /detik (Cahyadi dan Heki 2013).

GPS biasa dibuat untuk navigasi, tetapi juga berguna untuk pengamatan bumi secara umum, contohnya penurunan lempeng atau crustal deformation dan studi atmosfer. Pada penurunan lempeng ini, pengombinasian kedua gelombang tersebut L1 dan L2 sangat diperlukan untuk menentukan posisi suatu titik dengan akurat karena dapat menghilangkan efek ionosfer yang disebut dengan geometry-free linear combinastion (L4-combination). Sehingga dapat diketahui perubahan atau deformasi posisi titik sebelum dan sesudah terjadinya erupsi Merapi. Akhir-akhir ini, GPS juga menawarkan metode alternative untuk menganalisa pergerakan temporal dan spasial ionosfer (Heki and Ping 2005; Kutiev et al 2007). Gelombang elektromagnetik yang ditransmisikan oleh satelit GPS di-delay ketika gelombang tersebut merambat melalui ionosfer. Time-delay atau penundaan ini dapat digunakan untuk menyimpulkan variasi ionosfer, melalui kuantitas yang dikenal sebagai Total Electron Content (TEC). Pada lapisan ionosfer ini maka akan dihitung TEC  setelah beberapa menit terjadinya gempa. TEC biasanya digunakan dalam unit TEC (1 unit TEC  sama dengan 1.016 el/m2) (Cahyadi dan Heki 2013). Dengan demikian, pada studi ini pengaruh Gunung Merapi yang meletus dapat diketahui dari perilaku ionosfer melalui gelombang pembawa pada satelit GPS yang dipancarkan ke stasiun di bumi dan hubungan besarnya TEC terhadap perubahan deformasi.

Pada penelitian sebelumnya, (Hastono 2008) menjelaskan bahwa pada studi meletusnya gunung Merapi pada tahun 2010, memberikan keterangan bahwa pada proses erupsi gunung Merapi ini mengakibatkan perubahan TEC di atas ataupun di daerah sekitar gunung Merapi. Pengamatan dilakukan selama 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah erupsi yang menerangkan bahwa pada saat terjadinya erupsi, nilai TEC terjadi kenaikan dan setelah erupsi maka nilai TEC kembali semula. Sementara, penelitian yang saya lakukan membahas mengenai aktivitas ionosfer yang diamati selama 20 hari yaitu pada hari 26 Oktober 2010 – 15 November 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s