Saksikan, Aku seorang muslim

Jum’at jam 05.00 PM di stasiun kereta-Tainan-, Aku dan temanku Khalil (dari Pakistan) yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Kami akan menuju ke Masjid Besar Kaohshiung. Kali ini, Aku tidak memilih kereta express, namun memilih kereta lain yang lebih lambat, kira-kira sekitar 45  menit atau 15 menit lebih lama daripada kereta express. Tidak lama kami menunggu, kereta telah tiba. Karena memang interval antara satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20-30 menit. Kereta yang aku naiki seperti MRT bawah tanah, namun ini menghubungkan antar kota (Tainan-Kaohsiung-Pintung).

Kami naik, disusul bersama dengan 3 orang lainnya orang Indonesia. Hmm.. di dalam terasa sangat nyaman dan dingin meski kami berdiri, lebih dingin dari pada musim panas di luar sana. Suatu saat di perjalanan, kami (orang Indonesia) berkumpul bersama saling menceritakan kisah-kisah. Temanku, dengan gaya gamis putihnya yang sangat kental dengan gaya Islam. Ditambah dengan topi sederhananya berwarna putih bundar. Sungguh sangat menonjolkan sisi Islamnya. Dengan kemampuan sederhananya berbahasa mandarin, dia mengajak orang lokal untuk menanyakan seputar percakapan sehari-hari. Pertama orang lokal itu sangat enggan dan bingung mau menjawab pertanyaan dari temanku ini. Namun, dengan disambut dengan senyuman ikhlas yang ia bawakan, orang lokal itu memutuskan untuk menjawabnya dengan senang hati. Lalu, bercakap-cakap lah kelompok mereka dengan temanku ini.Akupun bilang, “wahh.. aktif sekali orang ini!” dengan mengayuhkan kepalaku kepada salah seorang mahasiswa dari Indonesia, jurusan IMBA-NCKU. Dia adalah mahasiswa Ph.D. Dia lalu menjelaskan alasan-alasannya kenapa harus aktif dan menyapa orang-orang lokal dengan senyum ramah. Apalagi dengan identitas pakaian yang ia kenakan.

~~~Temanku~~~

Peratama kali Aku masuk kelas, itu adalah kelas pertama pada semester pertama sebagai mahasiswa Master. Dengan jenggot panjang, dan tebal dari penampilanku ini, banyak orang-orang lokal terheran-heran. Karena memang, penduduk lokal sini sangat jarang sekali mempunyai jenggot tebal, kecuali orang-orang yang tua atau orang-orang yang beragama(Biksu). Aku duduk di dalam kelas sembari menunggu dosen yang akan mengajar nanti. Selang setelah bel berbunyi, dosen telah datang disusul dengan mahasiswa lainnya. Aku duduk di paling depan, dan mahasiswa lainnya duduk dibelakangiku.

Sapa dan salam perkenalan dari dosen juga diberikan. Lalu ia menanyakan nama dan asalku karena hanya aku mahasiswa internasional di kelas. Aku membalasnya dengan dengan senyum ramah, “Khalil dari Pakistan”. lalu dia menjawab, “ohh.. Taliban ya..” dengan niat bercanda. Aku pun hanya bisa senyum rapat. Melihat respon dari dosen itu, mahasiswa lainnya jadi agak ‘enggan’ karena takut dengan berita-berita yang tersebar di sini tentang Taliban. Aku pun hanya diam saja.

Pada suatu waktu yang lain, dosen itu meminta maaf kepadaku karena bercandanya yang membuat orang lain enggan. Dan menjelaskan niat ‘bercandanya’ tadi kepada mahasiswa lainnya.

“Nahh… dengan begitu” (Lanjut mahasiswa Ph.D. tadi,), “Makanya ia ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang ramah dan damai”. Lalu aku pun berkumpul bergabung bersama mereka dengan menunjukkan senyum ramah kepada mereka.

Apakah orang-orang luar negeri (Taiwan) cuek? come and visit to the next coming story.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s