Apakah Islam mengajarkan pluralisme?

Muslim adalah umat yang sangat kokoh, jika ia benar dengan pemikiran islamnya, maka tidak ada suatu apapun yang dapat menghentikan dia kecuali kehendak Allah SWT. Oleh sebab itu, orang-orang yang kontra dengan Islam, mereka berusaha untuk menyerang muslimuun dari segi pemikiran sehingga membuatnya jauh dari nilai-nilai Islam.

Salah satu pemahaman yang keliru yang sangat populer kali ini yang saya ingin share adalah masalah pluralisme. Terkejut saya mendengar perkataan dari seorang wanita, ia adalah wanita yang nomor satu di Indonesia ini, masih muda, ia mengatakan ingin mengembangkan pluralisme untuk memberantas radikalisme. Ntah dia berbicara seperti ini sudah memahami hakikat “radikal” atau belum. Apalagi radikal yang dilekatkan dengan Islam. Merupakan suatu hal yang sangat sensitif. Dia mengatakan bahwa dengan pemahaman pluralisme, maka ia dapat menghormati perbedaan. Lalu apa yang dimaksud dengan menghormati perbedaan menurut pemahaman pluralisme? Ini yang perlu untuk dikaji lebih lanjut (Semampu saya, dari hanya beberapa literatur saja). Dan apakah kita ini sebagai muslim juga sudah terkontaminasi dengan pemahaman pluralisme?

Langsung saja, jadi paham pluralisme itu adalah paham yang menyamakan semua agama. Tidak ada keunggulan suatu agama dari agama yang lain. Tujuan semua agama adalah sama yaitu membuat pribadi menjadi lebih baik dan mengajarkan kebenaran (Religion is which all men agree… that is, to be Good Men and True) dan yang lebih mantap adalah bahwa semua agama itu mengacu pada tuhan yang satu. Wisss… bagus ya, kita tertarik dari pemahaman ini? atau kita menyetujui?

Dampaknya dari pemahaman ini adalah menganggap semua agama adalah benar, sehingga muslim dapat beribadah sesuai dengan agama lain, bahkan ke empat agama yang lain yang diakui di Indonesia. Trus, dimanakah letak toleransi beragamanya? Untuk memahami dari pemahaman pluralisme ini, mereka mengasumsikan bahwa tuhan adalah objek yang berada di pusat lingkaran. Bisa diasumsikan seperti sebuah kincir angin, porosnya adalah tuhan dan agama adalah ujung pangkal dari setiap jari-jarinya, Islam, Kristen, Hindu, Buda, Katolik [1]. Lalu apa yang dimaksud dengan objek? sesuatu yang dikatakan objek adalah ia yang tak dapat kuasa atas segala hal yang ada di bumi ini. Apakah tuhan kita tidak berkuasa atas segala sesuatu?

Pluralisme ini muncul tidak hanya pada Islam saja, sebelumnya sudah menggerogoti mayoritas agama besar di dunia (Islam, Kristian, Yahudi, Budha, Hindu, dll.) yang dikenal dengan TUR (Transcendent Unity of Religions). Paham ini kemudian dikembangkan oleh Rene Guenon (lahir di Perancis tahun 1883) [2]. Kemudian ia masuk Islam dengan mengembangkan paham TUR yang didukung oleh Syiah. Ada cerita lain lagi kenapa syiah selalu bersekongkol dengan orang-orang yang menggerogoti Islam ini. Kemudian, perkembangan pluralisme di Indonesia ini disambut baik oleh kalangan yang mengaku Islam Liberal.

Bayangkan, jika kita muslim apakah mau kita mengatakan bahwa agama lain adalah benar? Sedangkan syariat dalam Islam ini sungguh ketat, harus menjaga riba, akhlak dan perilaku yang baik, sholat lima waktu, puasa wajib Ramadhan, tidak boleh ghibah dan sebagainya. Kemudian menganggap agama lain adalah benar? Bagaimana konsep lakum dinukum waliyadin yang diterangkan dalam Alquran?

Kemudian bagi agama lain, maukah mereka menganggap agama Islam ini adalah agama yang benar? Maukah mereka mengakui bahwa tuhan yang satu adalah Allah dan tidak menyembah sekutunya?

Sesungguhnya ediologi pluralisme ini adalah sebuah ediologi yang merusak suatu agama. Semua agama pasti akan tidak sependapat dengan pemikiran ini jika ia mengerti betul agamanya yang dianut itu. Semua agama mengajarkan bahwa dirinyalah agama yang paling benar. Bahwa dirinyalah yang mengajarkan akan konsep ketuhanan. Bahwa dirinyalah yang mengajarkan cara beribadah yang berbeda dengan yang lain. Kemudian ada seorang pemikir yang mengatakan bahwa semua agama ini benar.

Di dalam blog ini, saya menjelaskan sedikit tentang toleransi yang dikembangkan oleh pemikir pluralisme adalah mereka malah menyamakan perbedaan. Ini bukan sebenarnya toleransi. Karena toleransi yang benar adalah mengakui perbedaan antar pemeluk agama dan menghormatinya, menghargainya. Saya berbeda keyakinan dengan anda, dan saya menghargai perbedaan itu. Itulah sebenarnya toleransi dalam beragama. Sangat jelas diterangkan dalam Alquran.

Menurut saya, sayangnya pemikiran ini muncul setelah Rasulullah mengatakan tidak ada nabi setelah saya (Muhammad SAW) dan muncul di kalangan barat di era-era pra-modern hingga sekarang.

(Maaf, jika ada bahasa yang salah, sungguh saya tidak bermaksud untuk menjelekkan agama lain. Justru saya membuat ini adalah sangat menghargai agama lain)

[1] https://insists.id/dari-teosofi-ke-pluralisme-agama/

[2] https://insists.id/isu-isu-sentral-dalam-pemikiran-islam-liberal/

[3] Misykat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s