Exploring the suburb of Tainan (Anping)

Kali ini, aku jalan – jalan ke pingiran kota Tainan. Dimana Tainan adalah kota yang terletak di bagian barat dari Taiwan. Ternyata Tainan adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal berdirinya Taiwan. Di kota ini dulunya adalah pusat pemerintahan pertama dibentuk. Sama seperti Yogyakarta yang dipindah ke Jakarta. Kami sering bilang kalo Tainan adalah Jogjanya Indonesia. hhehe. Namun sekarang, pusat pemerintahan Taiwan ada di Taipei. Dan kota ini menjadi sebenarbenarnya Jogja kerena kaya akan budaya lokalnya, tradisinya.

Kota ini termasuk kota yang tahan banting, karena pernah mengalami nasib yang sama dengan kota-kota di Indonesia yaitu dijajah oleh Belanda selama 300 tahun. Sehingga banyak pula peninggalan-peninggalannya seperti benteng Fort Anping yang sekarang ini bernama Fort Zeelandia, Anping old street, confucius tample, gunung garam, Tainan night market dll. Tainan juga terkenal akan tempat-tempat wisata sejarahnya, selain itu juga menjadi tempat kuliner yang populer juga. Untuk itu, Aku dan teman-teman kali ini berkunjung ke salah satu taman di pinggiran pantai Anping yang bernama Taman Lin Mo Niang. 
Continue reading “Exploring the suburb of Tainan (Anping)”

Advertisements

Saksikan, Aku seorang muslim

Jum’at jam 05.00 PM di stasiun kereta-Tainan-, Aku dan temanku Khalil (dari Pakistan) yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Kami akan menuju ke Masjid Besar Kaohshiung. Kali ini, Aku tidak memilih kereta express, namun memilih kereta lain yang lebih lambat, kira-kira sekitar 45  menit atau 15 menit lebih lama daripada kereta express. Tidak lama kami menunggu, kereta telah tiba. Karena memang interval antara satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20-30 menit. Kereta yang aku naiki seperti MRT bawah tanah, namun ini menghubungkan antar kota (Tainan-Kaohsiung-Pintung).

Kami naik, disusul bersama dengan 3 orang lainnya orang Indonesia. Hmm.. di dalam terasa sangat nyaman dan dingin meski kami berdiri, lebih dingin dari pada musim panas di luar sana. Suatu saat di perjalanan, kami (orang Indonesia) berkumpul bersama saling menceritakan kisah-kisah. Temanku, dengan gaya gamis putihnya yang sangat kental dengan gaya Islam. Ditambah dengan topi sederhananya berwarna putih bundar. Sungguh sangat menonjolkan sisi Islamnya. Dengan kemampuan sederhananya berbahasa mandarin, dia mengajak orang lokal untuk menanyakan seputar percakapan sehari-hari. Pertama orang lokal itu sangat enggan dan bingung mau menjawab pertanyaan dari temanku ini. Namun, dengan disambut dengan senyuman ikhlas yang ia bawakan, orang lokal itu memutuskan untuk menjawabnya dengan senang hati. Lalu, bercakap-cakap lah kelompok mereka dengan temanku ini. Continue reading “Saksikan, Aku seorang muslim”

Berdiri, Lebih Baik

Pelajaran semester pertama telah usai, dan liburan di musim panas telah dimulai. Aku sebagai mahasiswa yang bekerja di lab tidak bisa menikmati liburan ini dengan sepenuhnya. Tetap saja, weekdays, aku selalu menjenguk lab untuk melakukan riset. Sedangkan hari sabtu dan minggu adalah salah satu waktu luangku untuk berlibur.

Tok-tok-tok, Assalamualaikum.. Kamis malam, temanku datang ke kamarku. “Masuk” aku bilang.. Kok dia gak masuk, batinku. “Masuk!” aku timpali dengan suara lebih keras. Namun tak dibuka juga pintu itu yang tak terkunci. Dengan langkah malas, aku turun dari kamarku yang ada di tingkat dua. Turun, dan kubuka pintu itu. Dia menyapa “Hello Assalamualaikum, Are you busy brother?”. “No, please come in” jawabku mendadak. Walah . . . pantesan diem aja, ternyata bukan orang indo, batinku. Dia dari Pakistan dengan Gamisnya yang sering ia kenakan. Continue reading “Berdiri, Lebih Baik”

Cerita di Mahameru (terpeleset di ketinggian 3676 mdpl puncak Mahameru)

Hari yang membosankan

Minggu ini sangat membosankan, benar – benar membosakan, di kos tidur, bangun , tidur lagi dan bangun hanya  untuk menegakkan tiang agama :). Ditengah – tengah liburnya perkuliahan, menonton, main pes itulah salah satu hiburanku. Berbeda dengan tahun lalu, banyak banyak sekali aktifitas yang mengantri untuk dieksekusi. Pagi hingga siang, siang hingga malam hingga berlanjut beberapa hari kedepannya. Berbagai film telah kutonton, namun berbeda pada hari minggu kali ini, semua film yang kutonton telah ludes (habis), hingga tersentak hati ingin mencari hiburan dan film yang baru.

Hari itu terasa segar, angin bersemilir dengan pelannya bak air mengalir dengan tenang. Lalu kunyalakan mesin motor dan hendak pergi kesuatu tempat. Diperjalanan, terlihat salah satu teman menyapa yang memberi kabar tentang mahameru yang ingin menjadi target selanjutnya untuk di daki. Candra namanya, teman seangkatan, Geomatika – ITS asli Jember. Seorang pecinta alam yang berpengalaman dalam hal gunung menggunung sejak sekolah menengah atas. Berbincang bincang sejenak dengan dongengnya, alhasil sayapun memutuskan untuk mengikuti pendakian itu. (Untuk mengisi liburan kali ini itu pasti sangat menyenangkan, batinku). Nanti malam jam 08.00 kumpul di kos, persiapkan barang – barang nanti gw sms katanya.

Persiapan yang matang 🙂

wahh. .. sekarang jam 03.00 sore, persiapan masih nihil. tas sepatu dan peralatan muncak masih nol (btw ini juga pertama kalinya gw muncak. hhehe). Lumayan lah gegara 5 cm jadi terbesit ke semeru. Meskipun nggak ada olahraga atau joging – joging untuk persiapan muncak. kan sudah olahraga dengan dikejar deadline untuk mempersiapkan peralatan muncak kali ini, hhehe. Mendengar kabar itu, gw langsung bergegas kembali ke kos untuk mempersiapkan barang – barang yang diperlukan disana.

Dengan si Candra langsung juga berangkat ke (Eager, Cosmed, Rei) dan berbagai toko lain untuk kebutuhan muncak. Sendal, sepatu, jaket, sleeping bag, matlas itu adalah peralatan pribadi yang harus dibawa. Tidak boleh tidak, kecuali hidupmu berada di kutub. Mungkin Mahameru masih terasa hangat. hhehe Kumandang magrib telah menyapa, kusegerakan untuk pulang, sholat  dan berdoa agar diselamatkan dalam pendakian hingga kembali ke Surabaya. Dan mempersiapkan kembali barang – barang yang diperlukan. Hingga sholat isya. Sepertinya ada yang lupa, namun memang sengaja gw tidak membeli tas karier ini, karena kantong mulai jebol dengan hanya memprioritaskan perlengkapan yang lain. Gw menghubungi beberapa teman yang bersedia untuk meminjamkan tasnya untuk kebutuhan saya ini. Dia adalah Koni, berbadan besar, tinggi dengan ciri khasnya yang  suka senyum dan tertawa, dia asli Surabaya, orang yang baik di angkatanku dengan pemikiran yang menarik dan unik. Sesegera gw mengunjunginya dan meminjam darinya.

Jam 08.00 malam telah berlalu, kusegerakan untuk berangkat dan berkumpul di tempat yang telah disepakati. Berkumpul disana, banyak dari teman – teman yang mengikuti pertualangan ini. Kami bersebelas orang, 9 orang laki – laki dan 2 perempuan. Tentunya orang terakirnya adalah saya. Ihsan, seorang yang kalem melankolis dari Bekasi. Gema, seorang yang besar, lantang suaranya dan tegas, dari Makasar. Tama, pernah menjadi komting dengan beberapa hari tenggang waktunya, dari Cianjur. Doni, teman yang sebidang denganku dalam organisasi kala itu, dari Kalimantan. Rahmat, dia adalah ketua angkatan geomatika – 2011, dari Madiun. Krisna, banyak yang bilang dia adalah seorang kuli. hahaha. Maksudnya, karena apapun permasalahan tentang dekorasi dan apapun itu, pasti diembatnya. Kalo gw bilang si dia serba bisa dan rapih, dia asli Blitar. Ardana, biasa dipanggil cemani. katanya karena sesuai dengan warna ayam cemani. Tapi gw bilang si dia tidak terlalu hitam, cocok lah untuk kas Indonesia, dia dari Kediri. Dan ceweknya Laelatul Qomariah, biasa dipanggil Ari dari Sidoarjo, seorang yang frontal perkataannya namun pas pada kondisi-situasi. dan yang terakhir seorang yang sering dibully oleh temen-temen dan banyak omongnya, sering kepo juga si, Ulul dari Mojokerto. Featured image

Berkumpul bersama, berdoa sebelum berangkat.

Perjalanan dimulai

Semua berkumpul dan berbincang – bincang satu sama lain. canda, tawa menyelimuti suasana persiapan kali ini sambi menunggu teman yang lain dan mengunggu angkot yang telah dipesan (carter). Kami kira – kira kena 15 ribu rupiah per orang. …Read more Mahameru