Exploring another side of Taiwan (Kaohsiung)

Sebenarnya ini adalah kali pertama aku melakukan jalan-jalan di luar kota bukan untuk kepentingan apapun. Awalnya, jalan-jalan ini adalah sesuatu yang tak teragendakan. Cerita ini nyambung antara dua episode sebelumnya, “Saksikan, Aku seorang muslim” yang berangkat dari Tainan ke Kaohsiung dan “Berdiri, lebih baik” dari stasiun besar kaohshiung ke Masjid besar Kaohsiung melalui kereta bawah tanah (KMRT-Kaohsiung Mass Rapid Transit). Tujuan utama kami adalah ke Masjid besar Kaohsiung untuk melakukan mabit bersama, mahasiswa muslim Taiwan dari berbagai Negara. Pagi hari di hari berikutnya, aku dan temanku, Metrima, mahasiswa Material Science – NCKU berencana untuk pergi menikmati pemandangan sisi lain di Taiwan, Kaohsiung. Continue reading “Exploring another side of Taiwan (Kaohsiung)”

Advertisements

Exploring the suburb of Tainan (Anping)

Kali ini, aku jalan – jalan ke pingiran kota Tainan. Dimana Tainan adalah kota yang terletak di bagian barat dari Taiwan. Ternyata Tainan adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal berdirinya Taiwan. Di kota ini dulunya adalah pusat pemerintahan pertama dibentuk. Sama seperti Yogyakarta yang dipindah ke Jakarta. Kami sering bilang kalo Tainan adalah Jogjanya Indonesia. hhehe. Namun sekarang, pusat pemerintahan Taiwan ada di Taipei. Dan kota ini menjadi sebenarbenarnya Jogja kerena kaya akan budaya lokalnya, tradisinya.

Kota ini termasuk kota yang tahan banting, karena pernah mengalami nasib yang sama dengan kota-kota di Indonesia yaitu dijajah oleh Belanda selama 300 tahun. Sehingga banyak pula peninggalan-peninggalannya seperti benteng Fort Anping yang sekarang ini bernama Fort Zeelandia, Anping old street, confucius tample, gunung garam, Tainan night market dll. Tainan juga terkenal akan tempat-tempat wisata sejarahnya, selain itu juga menjadi tempat kuliner yang populer juga. Untuk itu, Aku dan teman-teman kali ini berkunjung ke salah satu taman di pinggiran pantai Anping yang bernama Taman Lin Mo Niang. 
Continue reading “Exploring the suburb of Tainan (Anping)”

Saksikan, Aku seorang muslim

Jum’at jam 05.00 PM di stasiun kereta-Tainan-, Aku dan temanku Khalil (dari Pakistan) yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Kami akan menuju ke Masjid Besar Kaohshiung. Kali ini, Aku tidak memilih kereta express, namun memilih kereta lain yang lebih lambat, kira-kira sekitar 45  menit atau 15 menit lebih lama daripada kereta express. Tidak lama kami menunggu, kereta telah tiba. Karena memang interval antara satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20-30 menit. Kereta yang aku naiki seperti MRT bawah tanah, namun ini menghubungkan antar kota (Tainan-Kaohsiung-Pintung).

Kami naik, disusul bersama dengan 3 orang lainnya orang Indonesia. Hmm.. di dalam terasa sangat nyaman dan dingin meski kami berdiri, lebih dingin dari pada musim panas di luar sana. Suatu saat di perjalanan, kami (orang Indonesia) berkumpul bersama saling menceritakan kisah-kisah. Temanku, dengan gaya gamis putihnya yang sangat kental dengan gaya Islam. Ditambah dengan topi sederhananya berwarna putih bundar. Sungguh sangat menonjolkan sisi Islamnya. Dengan kemampuan sederhananya berbahasa mandarin, dia mengajak orang lokal untuk menanyakan seputar percakapan sehari-hari. Pertama orang lokal itu sangat enggan dan bingung mau menjawab pertanyaan dari temanku ini. Namun, dengan disambut dengan senyuman ikhlas yang ia bawakan, orang lokal itu memutuskan untuk menjawabnya dengan senang hati. Lalu, bercakap-cakap lah kelompok mereka dengan temanku ini. Continue reading “Saksikan, Aku seorang muslim”

Berdiri, Lebih Baik

Pelajaran semester pertama telah usai, dan liburan di musim panas telah dimulai. Aku sebagai mahasiswa yang bekerja di lab tidak bisa menikmati liburan ini dengan sepenuhnya. Tetap saja, weekdays, aku selalu menjenguk lab untuk melakukan riset. Sedangkan hari sabtu dan minggu adalah salah satu waktu luangku untuk berlibur.

Tok-tok-tok, Assalamualaikum.. Kamis malam, temanku datang ke kamarku. “Masuk” aku bilang.. Kok dia gak masuk, batinku. “Masuk!” aku timpali dengan suara lebih keras. Namun tak dibuka juga pintu itu yang tak terkunci. Dengan langkah malas, aku turun dari kamarku yang ada di tingkat dua. Turun, dan kubuka pintu itu. Dia menyapa “Hello Assalamualaikum, Are you busy brother?”. “No, please come in” jawabku mendadak. Walah . . . pantesan diem aja, ternyata bukan orang indo, batinku. Dia dari Pakistan dengan Gamisnya yang sering ia kenakan. Continue reading “Berdiri, Lebih Baik”

Cerita di Mahameru (terpeleset di ketinggian 3676 mdpl puncak Mahameru)

Hari yang membosankan

Minggu ini sangat membosankan, benar – benar membosakan, di kos tidur, bangun , tidur lagi dan bangun hanya  untuk menegakkan tiang agama :). Ditengah – tengah liburnya perkuliahan, menonton, main pes itulah salah satu hiburanku. Berbeda dengan tahun lalu, banyak banyak sekali aktifitas yang mengantri untuk dieksekusi. Pagi hingga siang, siang hingga malam hingga berlanjut beberapa hari kedepannya. Berbagai film telah kutonton, namun berbeda pada hari minggu kali ini, semua film yang kutonton telah ludes (habis), hingga tersentak hati ingin mencari hiburan dan film yang baru. Continue reading “Cerita di Mahameru (terpeleset di ketinggian 3676 mdpl puncak Mahameru)”